Showing posts with label Peace. Show all posts
Showing posts with label Peace. Show all posts

Thursday, June 27, 2024

Percaya kepada yang Gaib: Salah Satu Aspek Iman dalam Islam



Percaya kepada yang Gaib: Salah Satu Aspek Iman dalam Islam

Dalam Islam, keimanan kepada yang gaib adalah salah satu aspek penting dari keimanan. Allah SWT menciptakan alam semesta yang begitu luas, tidak hanya terdiri dari makhluk yang tampak seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, tetapi juga makhluk yang tidak bisa dilihat oleh mata manusia, yaitu makhluk gaib.


Malaikat: Makhluk Gaib yang Selalu Taat

Malaikat adalah salah satu makhluk gaib yang diciptakan oleh Allah SWT. Mereka selalu beribadah dan taat kepada perintah-Nya. Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: "Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah", dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (QS. An-Naml: 65)

Ayat ini menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui segala hal yang gaib. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui masa depan atau hal-hal yang tidak tampak kecuali melalui petunjuk dari Al-Quran dan hadits.


Bintang sebagai Tanda-tanda Kekuasaan Allah

Sahabat Nabi, Qatadah bin an-Nu’man, menyatakan bahwa Allah menciptakan bintang-bintang untuk tiga kegunaan: sebagai perhiasan langit, sebagai penunjuk arah, dan sebagai alat untuk merajam setan-setan. Ia memperingatkan agar tidak mengaitkan bintang-bintang dengan ilmu gaib yang tidak berdasar, seperti ramalan nasib.


Kepercayaan kepada yang Gaib sebagai Tanda Keimanan

Kepercayaan kepada yang gaib adalah tanda keimanan yang kuat. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun, baik di langit maupun di bumi, yang dapat mengetahui hal-hal gaib kecuali Allah SWT. Ini mengingatkan kita untuk selalu berserah diri kepada-Nya dan tidak mencari-cari pengetahuan tentang hal-hal yang tidak diberikan petunjuknya oleh Allah.


Menghindari Kepercayaan pada Ramalan dan Takhayul

Dalam Islam, percaya kepada ramalan nasib atau takhayul yang tidak memiliki dasar dalam Al-Quran dan hadits adalah bentuk kebodohan. Hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, dan manusia sebaiknya tidak terjebak dalam praktek-praktek yang menyesatkan.


Dengan memahami dan mempercayai hal-hal yang gaib atas dasar petunjuk dari Al-Quran, kita diingatkan akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Keimanan kepada yang gaib tidak hanya memperkuat keyakinan kita kepada Allah tetapi juga menjauhkan kita dari praktek-praktek yang tidak islami. Semoga kita semua dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan memahami dan menghayati petunjuk dari Allah SWT. Wallahu a’lam.


Sumber :
https://kumparan.com/berita-update/dalam-islam-seseorang-hendaknya-percaya-pada-yang-gaib-atas-dasar-apa-1yE25sRhgSW/full

Sunday, June 16, 2024

Menyembelih Sifat-sifat Hewani dalam Diri

Ciri Manusia yang Membedakan dengan Hewan 

Idul Adha adalah momen reflektif bagi umat Islam untuk menyembelih sifat-sifat hewani dalam diri. Dalam momen Idul Adha, umat Islam diingatkan untuk mengendalikan dan menyembelih sifat-sifat hewani dalam diri, seperti nafsu berlebihan, amarah, dan egoisme. Ini adalah waktu untuk introspeksi dan meningkatkan kualitas diri dengan mengikuti contoh Nabi Ibrahim AS yang penuh ketundukan dan ketaatan kepada Allah SWT. Semoga kita semua mampu menginternalisasi nilai-nilai ini dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi manusia yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Ada empat ciri utama yang membedakan manusia dari hewan, yaitu,

Pertama : Mampu Berpikir, Akal dan Kritis

Manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT dengan keistimewaan utama yaitu akal. Kemampuan berpikir dan bernalar ini menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya, serta merupakan anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia.

Akal merupakan instrumen penting yang memungkinkan manusia untuk memahami, menganalisis, dan memecahkan masalah. Dalam Al-Quran, banyak ayat yang mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dalam memahami tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Allah SWT berfirman:

Islam sangat menghargai kemampuan berpikir kritis dan mendorong umatnya untuk selalu berusaha mencari kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Berpikir kritis tidak hanya melibatkan kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi informasi, tetapi juga melibatkan keberanian untuk mempertanyakan dan mencari bukti yang kuat sebelum menerima suatu pemahaman.

Kemampuan berpikir, menggunakan akal, dan bersikap kritis adalah ciri khas manusia yang membedakannya dari makhluk lain. Islam mendorong umatnya untuk selalu menggunakan akal dalam memahami ajaran agama dan realitas kehidupan. Namun, akal harus selalu dibimbing oleh iman agar dapat menghasilkan pemahaman yang benar dan bermanfaat. Dengan demikian, manusia dapat menjalani hidup yang bermakna dan sesuai dengan tujuan penciptaannya oleh Allah SWT.


Kedua : Tersenyum, Damai, Awet Muda, Bersedekah, Ramah, Bukan Marah

Islam mengajarkan berbagai akhlak mulia yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang istimewa. Beberapa ciri utama yang dianjurkan dalam Islam adalah tersenyum, damai, awet muda, bersedekah, ramah, dan menjauhi sifat marah. Berikut adalah penjelasan mengenai setiap ciri tersebut:

Senyum adalah cerminan hati yang tulus dan bersih. Dalam Islam, tersenyum bukan hanya ekspresi kebahagiaan tetapi juga bentuk ibadah yang dapat menyebarkan kebaikan dan meringankan beban orang lain.

Islam adalah agama yang membawa rahmat dan kedamaian. 

Ciri-ciri manusia yang dianjurkan dalam Islam seperti tersenyum, damai, awet muda, bersedekah, ramah, dan tidak mudah marah adalah manifestasi dari akhlak yang baik. Dengan mengamalkan sifat-sifat ini, seorang Muslim tidak hanya menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah SWT tetapi juga menjadi contoh teladan bagi masyarakat sekitarnya. 


Ketiga: Rasa Malu dan Iman

Dalam Islam, ciri khas yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah adanya rasa malu dan iman. Kedua sifat ini bukan hanya tanda keimanan, tetapi juga fondasi untuk membangun akhlak yang mulia.

Rasa malu merupakan salah satu sifat yang sangat dianjurkan dalam Islam. 

Rasa malu mendorong seorang Muslim untuk menjaga perilaku, kata-kata, dan penampilannya agar selalu sesuai dengan ajaran Islam. Misalnya, rasa malu akan membuat seseorang berpakaian dengan sopan, berkata-kata dengan lembut, dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Rasa malu dan iman saling berkaitan erat. Seorang yang beriman akan memiliki rasa malu yang tinggi, karena ia menyadari bahwa Allah SWT selalu mengawasi segala perbuatannya. Rasa malu akan mendorong seseorang untuk selalu berbuat baik dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa, karena ia tidak ingin mengecewakan Allah SWT dan merusak hubungan baik dengan-Nya.

Selain itu, rasa malu juga menjadi benteng bagi seorang Muslim dalam menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dengan adanya rasa malu, seseorang akan berhati-hati dalam bertindak dan berkata, sehingga dapat menjaga keharmonisan dan kehormatan dalam kehidupan sosial.


Keempat : Beragama, Petunjuk, dan Tuntunan

Dalam Islam, manusia diberikan keistimewaan sebagai makhluk yang beragama, memiliki petunjuk, dan mengikuti tuntunan. Tiga aspek ini merupakan pilar penting yang membentuk karakter dan arah hidup seorang Muslim.

Beragama adalah fitrah manusia yang diciptakan Allah SWT. Beragama berarti menjalani kehidupan dengan kesadaran akan keberadaan Allah dan menjalankan perintah-Nya. Beragama memberikan makna dan tujuan hidup, serta menjadi landasan moral bagi setiap tindakan.

Al-Quran dan Sunnah adalah petunjuk utama bagi umat Islam. Al-Quran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup. Sunnah adalah contoh hidup Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan dan menerapkan ajaran Al-Quran. Kedua sumber ini memberikan petunjuk yang jelas dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari ibadah, muamalah, hingga akhlak.


Friday, May 31, 2024

Menyikapi Kebencian dengan Tetap Tenang

Cara Menyikapi Orang yang Membenci Kita: Sebuah Panduan dari Al-Quran.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan dengan orang-orang yang tidak menyukai kita. Menyikapi kebencian ini dengan cara yang bijak adalah penting agar kita tetap tenang dan tidak terpengaruh secara negatif. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat kita ambil, yang diinspirasi dari ajaran Islam dan Al-Quran.

1. Tetap Tenang dan Tidak Membalas.

Salah satu cara terbaik untuk menyikapi orang yang membenci kita adalah dengan tetap tenang dan tidak membalas kebencian tersebut. Al-Quran mengajarkan kita untuk menahan diri dan bersabar dalam menghadapi situasi sulit. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 63:

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati tanpa dibuat-buat, dan berjalan secara wajar, serta tidak menyombongkan diri dalam sikap dan tindakan."


2. Berdoa untuk Kebaikan Mereka.

Sikap yang mulia adalah mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang membenci kita. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan selalu berdoa untuk orang-orang yang menyakitinya. Dengan berdoa, kita menunjukkan bahwa kita tidak menyimpan dendam dan berharap yang terbaik untuk mereka.


3. Mengintrospeksi Diri.

Mengambil waktu untuk introspeksi diri dapat membantu kita memahami apakah ada tindakan atau sikap kita yang mungkin menyebabkan kebencian tersebut. Jika ada, kita bisa memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


4. Memaafkan dan Melupakan.

Memaafkan orang yang membenci kita adalah langkah penting untuk kedamaian batin. Al-Quran mendorong kita untuk memaafkan kesalahan orang lain. Dalam Surat An-Nur ayat 22, Allah berfirman:

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada."


5. Fokus pada Hal Positif.

Alihkan perhatian kita dari kebencian dengan fokus pada hal-hal positif dalam hidup kita. Teruslah melakukan kebaikan dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.


6. Menghindari Konfrontasi.

Jika memungkinkan, hindarilah konfrontasi dengan orang yang membenci kita. Memilih untuk menjauh dari situasi yang bisa memicu konflik adalah langkah bijak untuk menjaga ketenangan dan keharmonisan.


Ada satu doa yang bisa kita amalkan setiap saat. Abu Bakar RA pernah meminta diajari doa Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sebuah doa yang bisa kupanjatkan dalam sholatku."

Rasulullah SAW menjawab, "Ucapkanlah, Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira wa laa yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli min 'indika maghfiratan innaka antal ghafurur rahim (Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang)


Menyikapi kebencian dengan cara yang bijak dan sesuai ajaran Islam akan membantu kita tetap tenang dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, kita dapat menghadapi kebencian dengan bijaksana dan menjadikan diri kita lebih kuat secara spiritual dan emosional. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita dalam menghadapi setiap ujian hidup dengan kebijaksanaan dan kesabaran.


Sumber :

https://news.detik.com/infografis/d-5020235/doa-yang-diajarkan-rasulullah-saw-kepada-abu-bakar.

https://www.liputan6.com/quran/an-nur/22#:~:text=QS.%20An%2DNur%20Ayat%2022&text=22.%20Dan%20janganlah%20orang%2Dorang,mereka%20memaafkan%20dan%20berlapang%20dada.

https://www.detik.com/hikmah/quran-online/al-furqan/tafsir-ayat-63-2918#:~:text=Surah%20Al%2DFurqan%20Ayat%2063&text=Adapun%20hamba%2Dhamba%20Tuhan%20Yang,diri%20dalam%20sikap%20dan%20tindakan.

Thursday, April 25, 2024

Mengungkap Tujuan Mulia Penciptaan Manusia

Mengungkap Tujuan Mulia Penciptaan Manusia: Perspektif Al-Quran.

Tujuan penciptaan manusia pastinya bukan sebuah kesia-siaan. Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dibanding makhluk lain, sudah semestinya manusia mengetahui tujuan penciptaan manusia. Memahami tujuan penciptaan manusia, akan membuat manusia lebih bersyukur dan menghargai sesama makhluk hidup.

Dalam pencarian makna hidup dan eksistensi kita di dunia ini, seringkali kita merenungkan tujuan dibalik penciptaan kita sebagai manusia. Dalam agama Islam, Al-Quran menjadi sumber utama untuk menjawab pertanyaan ini. Salah satu ayat yang membahas tujuan penciptaan manusia adalah Surah Adz-Dzariyat ayat 56.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Dari ayat ini, kita dapat merangkum beberapa poin penting,


1. Tujuan Murni.

Ayat ini mengungkapkan tujuan murni di balik penciptaan manusia. Allah SWT menciptakan manusia bukan tanpa alasan, melainkan dengan tujuan yang jelas: untuk beribadah kepada-Nya. Ini menekankan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk mengenal, mencintai, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

2. Arti Sejati Kehidupan.

Dengan mengetahui bahwa tujuan utama kita adalah untuk beribadah kepada Allah, kita bisa memahami bahwa arti sejati dari kehidupan ini adalah menjalankan perintah-Nya, mengabdi kepada-Nya, dan menyempurnakan diri kita dalam perjalanan rohani.

3. Keterkaitan Jin dan Manusia.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa jin dan manusia memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan: untuk beribadah kepada Allah. Meskipun jin dan manusia memiliki kehidupan dan sifat yang berbeda, mereka sama-sama diminta untuk mengabdikan diri mereka kepada Sang Pencipta.

4. Pemahaman Terhadap Kehendak Allah.

Ayat ini mengajarkan kita bahwa mencari dan memenuhi kehendak Allah harus menjadi fokus utama dalam kehidupan kita. Dengan memahami dan mematuhi tujuan penciptaan kita, kita dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Manusia adalah makhluk pilihan yang dimuliakan oleh Allah dari makhluk ciptaan-Nya yang lainnya. Islam menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berasal dari tanah, kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan memiliki berbagai kemampuan.

Dengan demikian, ayat ini mengajak kita untuk merenungkan tujuan murni di balik penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Ini mengingatkan kita bahwa kehidupan ini adalah kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan kita dengan Sang Pencipta dan menjalankan tugas suci kita sebagai hamba-Nya. Dengan memahami dan menghayati tujuan penciptaan ini, kita dapat mengarahkan hidup kita menuju kesempurnaan dan kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

Sunday, June 18, 2023

Tujuan Penciptaan Alam Semesta

Alquran: Alam Semesta Diciptakan untuk Tujuan yang Benar

Alquran menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta.

Alquran menjelaskan, penciptaan alam semesta, yakni langit dan bumi bukan untuk hal yang sia-sia atau main-main. Penciptaan alam semesta untuk tujuan yang benar, salah satunya agar manusia menyembah dan mengenal Allah melalui ciptaan-Nya. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya Ayat 16 dan tafsirnya.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main. (QS Al-Anbiya: 16)

Dalam Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya dengan maksud yang sia-sia atau main-main. Allah menciptakan itu semua dengan tujuan yang benar, yang sesuai dengan hikmah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Pernyataan ini merupakan jawaban terhadap sikap dan perbuatan kaum kafir yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, serta kemukjizatan Alquran. Karena tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepadanya yaitu, bahwa Alquran adalah buatan Nabi Muhammad SAW, bukan wahyu dan mukjizat yang diturunkan Allah kepadanya.

Sikap ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui ciptaan Allah, seakan-akan Allah menciptakan sesuatu hanya untuk main-main, tidak mempunyai tujuan yang benar dan luhur. Padahal Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya, dan yang ada di antara keduanya, adalah agar manusia menyembah-Nya dan berusaha untuk mengenal-Nya melalui ciptaan-Nya itu.

Maksud tersebut baru dapat tercapai dengan sempurna apabila penciptaan alam itu diikuti dengan penurunan Kitab yang berisi petunjuk dan dengan mengutus para Rasul untuk membimbing manusia. Alquran selain menjadi petunjuk bagi manusia, juga berfungsi sebagai mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW, untuk membuktikan kebenaran kerasulannya.

Oleh sebab itu, orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah juga orang-orang yang menganggap bahwa Allah menciptakan alam ini dengan sia-sia, tanpa adanya tujuan dan hikmat yang luhur, tanpa ada manfaat dan kegunaannya.

Apabila manusia mau memperhatikan semua yang ada di bumi ini, baik yang tampak di permukaannya, maupun yang tersimpan dalam perut bumi itu, niscaya ia akan menemukan banyak keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah.

Jika ia yakin bahwa kesemuanya itu diciptakan Allah untuk kemaslahatan dan kemajuan hidup manusia sendiri, maka ia akan merasa bersyukur kepada Allah, dan meyakini bahwa semuanya itu diciptakan Allah berdasarkan tujuan yang luhur karena semuanya memberikan faedah yang tidak terhitung banyaknya.

Bila manusia sampai kepada keyakinan semacam itu, sudah pasti ia tidak akan mengingkari Alquran dan tidak akan menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Senada dengan isi ayat ini, Allah telah berfirman dalam ayat-ayat yang lain. 

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka." (QS Sad: 27)

"Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS Ad-Dukhan: 39)


Sumber :

https://iqra.republika.co.id/berita/rfba7h313/alquran-alam-semesta-diciptakan-untuk-tujuan-yang-benar#:~:text=Penciptaan%20alam%20semesta%20untuk%20tujuan,Anbiya%20Ayat%2016%20dan%20tafsirnya.

Wednesday, April 5, 2023

Konsep Rumah Sakit Datang dari Islam

Banyak yang Tak Tahu, Konsep Rumah Sakit Datang dari Islam


Abad ke-6 sampai ke-11 adalah masa kejayaaan Islam. Ketika Eropa sedang mengalami masa kegelapan (Dark ages), yang ditandai dengan menguatnya peran gereja dan menghilangnya perkembangan pengetahuan, Islam tampil sebagai 'sang pencerah' dari Timur. 

Dalam kurun waktu tersebut terjadi proses Islamisasi yang membuat Islam menyentuh berbagai wilayah lain di Jazirah Arab. Dampak dari proses Islamisasi ini adalah munculnya orang-orang yang kemudian menjadi cendekiawan Muslim.

Mereka muncul sebagai hasil dari kegiatan penerjemahan dan penyerapan karya filosofis dan ilmiah Barat.  Jadi, karya-karya yang terlupakan itu adalah 'santapan' orang-orang Muslim. 

Puncak proses penerjemahan itu terjadi saat mereka mendirikan Bait-ul Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan di Baghdad pada 830 M. Rumah itu berisi perpustakaan besar yang mengoleksi ribuan buku, dari mulai sains hingga filsafat. 

Karena berisi pusat ilmu pengetahuan, maka perpustakaan itu menjadi arena diskusi para cendekiawan. Dari sinilah mereka kemudian membuat banyak kemajuan ilmiah dan teknologi penting dalam matematika, astronomi, kimia, dan berbagai ilmu lain. 


Islam dan Konsep Rumah Sakit

Ahmed T. Kuru dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021) menyebut kunci sukses pengembangan pengetahuan oleh umat Muslim disebabkan karena mereka tidak dekat dengan penguasa. Mereka berdiri independen dan hanya didukung oleh kaum borjuasi Islam atau pedagang. Sebab, penguasa dipandang otoriter dan korup, sehingga dapat menghambat pengembangan pengetahuan. 

Dalam riset "How Islam Changed Medicine" (2005), salah satu karya besar dari orang Muslim yang dihasilkan dalam kurun tersebut adalah konsep praktis medis. Sebelum Islam, perawatan medis dilakukan oleh pendeta di sanatorium dan paviliun tempat ibadah. Barulah setelahnya, Islam memperkenalkan konsep rumah sakit yang berisi bangsal terpisah antara pria dan wanita, rekam medis, dan apotek.

Salah satu tokoh Muslim yang berpengaruh luas adalah Ibnu Sina alias Avicenna. Dia membuat pemahaman baru tentang penyembuhan pasien, bahwa untuk menyehatkan kembali orang sakit diperlukan kolaborasi antara obat-obatan, sisi psikologis, kesehatan fisik, dan gizi. Ini mengubah pandangan kuno Eropa yang hanya menekankan kesehatan fisik. 

Contoh ini hanyalah dua dari ribuan karya Islam yang tersebar luas mencerahkan kegelapan di Eropa. Saat proses Islamisasi berlangsung, terjadi pula perubahan paradigma pengetahuan. Secara langsung, Islam turut serta mengubah proses pengetahuan Barat yang tertinggal.

Namun, arus persebaran ini terhenti ketika peradaban Islam yang dibangun oleh bangsa Arab mengalami kemunduran usai serangan kelompok lain dan konflik internal. Satu per satu kekuasaan kelompok Islam di Eropa lepas. 


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230405105140-33-427503/banyak-yang-tak-tahu-konsep-rumah-sakit-datang-dari-islam?

Wednesday, March 22, 2023

Alasan Penciptaan Manusia di Bumi

Apa alasan penciptaan manusia di bumi?

Alasan penciptaan manusia di bumi menurut perspektif agama dan kepercayaan berbeda-beda, tergantung pada keyakinan yang dianut. 

Berikut ini adalah beberapa pandangan yang mungkin menjelaskan mengapa manusia diciptakan di bumi:

Menurut agama Islam, manusia diciptakan oleh Allah SWT sebagai khalifah (pengganti) di bumi, yang memiliki tugas untuk mengelola dan memelihara bumi serta segala isinya dengan sebaik-baiknya. 

Allah SWT juga menciptakan manusia agar mereka dapat beribadah kepada-Nya dan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Wednesday, February 9, 2022

Sadio Mane Bersihkan Toilet Masjid

Sadio Mane Ungkap Alasan Tak Ingin Video Aksi Bersihkan Toilet Masjid Jadi Viral

Rabu, 28 November 2018 | 21:34 WIB

Sadio Mane tak ragu untuk ikut bersih-bersih toilet Masjid. Meski dikenal sebagai pemain sepak bola profesional, Sadio Mane tidak ragu untuk melakukan aksi mulia seperti membersihkan toilet masjid. Pemain Liverpool itu dikenal sebagai pemeluk agama Islam yang taat.

Sering kali Sadio Mane terlihat rutin mengunjungi Masjid Al-Rahma di Liverpool, Inggris. Bahkan seorang penggemarnya sempat mengabadikan ketika Mane ikut membersihkan toilet di Masjid Tersebut.

Meski begitu pemain asal Senegal itu berharap jika video aksi bersih-bersih toilet itu tersebar dan menjadi viral di dunia maya. Aksi bersih-bersih toilet itu terjadi setelah Liverpool menang atas Leicester dalam laga lanjutan Liga Inggris pada awal September 2018 lalu.

Setelah pertandingan usai, Sadio Mane tampak bertemu dengan rekan seimannya yang saat itu bertugas membersihkan toilet Masjid.

"Saya seorang Muslim, saya berdoa lima kali sehari dan selagi memungkinkan saya akan melakukannya di Masjid. Suatu kali saya pergi ke sana dan menemukan seorang teman warga Ghana yang sangat baik," ujar Sadio Mane kepada surat kabarPrancis L'Equipe.

"Saya mengundangnya minum teh di rumah setelah shalat namun dia tidak bisa karena ia harus membersihkan toilet Masjid. Saya lalu berkata kepadanya bahwa kita akan melakukan bersama," tambahnya.

Mane pun tak segan untuk menawarkan bantuan untuk meringankan tugas kawannya. Namun secara tidak sadar ada seseorang yang merekam aksi mulia yang dilakukan pemain berusia 26 tahun tersebut. Meski begitu Sadio Mane meminta orang tersebut untuk menyebar luaskan videonya.

"Pada saat itu, seseorang merekam dan saya memintanya untuk tidak menyebarkan. Dia bersumpah tidak akan melakukannya namun keesokan harinya ada di internet," tambah Mane.

"Bagaimanapun juga, itu tidak terlalu penting," tutup pemain yang dipercaya sebagai duta pariwisata Indonesia tersebut.

Kini video Sadio Mane bersih-bersih toilet Masjid itu tersebar di dunia maya meski ia sudah memberikan himbauan kepada sang perekam. Namun secara tidak sadar ada seseorang yang merekam aksi mulia yang dilakukan pemain berusia 26 tahun tersebut.

Meski begitu Sadio Mane meminta orang tersebut untuk menyebar luaskan videonya.

"Pada saat itu, seseorang merekam dan saya memintanya untuk tidak menyebarkan. Dia bersumpah tidak akan melakukannya namun keesokan harinya ada di internet," tambah Mane.

"Bagaimanapun juga, itu tidak terlalu penting," tutup pemain yang dipercaya sebagai duta pariwisata Indonesia tersebut.

Kini video Sadio Mane bersih-bersih toilet Masjid itu tersebar di dunia maya meski ia sudah memberikan himbauan kepada sang perekam.


Sumber :

https://bolastylo.bolasport.com/read/171248797/sadio-mane-ungkap-alasan-tak-ingin-video-aksi-bersihkan-toilet-masjid-jadi-viral?page=2

Sunday, September 19, 2021

Jangan Pelit Ilmu

Alasan Jangan Menyembunyikan dan Pelit Ilmu

Senin, 20 September 2021 | 10:08 WIB


Umat Islam dianjurkan untuk menyebarkan ilmu yang dimiliki kepada khalayak luas. Artinya, kita jangan menyembunyikan dan pelit ilmu yang kita ketahui.

Bahkan ilmu yang bermanfaat dapat menjadi amal yang tak terputus pahalanya, meski yang bersangkutan telah wafat. Hal ini berbeda dengan yang biasa terjadi pada umat Bani Israel.

Islam memerintahkan umatnya untuk menyebarkan ilmu yang dia miliki, meskipun ilmu itu hanya sedikit. Rasulullah SAW bersabda: 


بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

“Ballighu anni walaw ayah.”


Yang artinya, “Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat.”  Dalam hadits lainnya dijelaskan: 


نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ  

 “Nadharallahu imran sami’a minna haditsan fahafizhahu hatta yuballighagu ghairahu farubba haamili fiqhin ila man huwa afqahu minhu wa rubba haamili fiqhin laisa bifaqihin.” 


Yang artinya, “Allah akan menceriakan seorang hamba yang telah mendengar dari kami sebuah hadis dan dia menghafalnya hingga dia menyampaikannya pada orang lain. Bisa jadi pembawa fikih itu ke orang yang lebih fakih darinya dan bisa saja pembawa fikih itu bukanlah seorang fakih (orang yang paham).” 


Syekh Aidh Al Qarni dalam buku Sentuhan Spiritual menjelaskan bahwa menyembunyikan ilmu dan tidak menyebarkannya kepada orang lain adalah di antara ciri khas Bani Israel.

Hal ini adalah kebiasaan kaum Bani Israel yang dimurkai Allah SWT, sebagaimana firman Allah dalam Alquran surat Al Baqarah ayat 159: 


إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ

“Innalladzina yaktumuna maa anzalna minal-bayyinaati wal-huda min ba’di maa bayyannahu linnasi fil-kitabi ulaa-ika yal’anuhumullahu wa yal’anuhumulla’inun.” 


Yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati.”  


Sumber :

https://www.sahijab.com/update/4977-alasan-jangan-menyembunyikan-dan-pelit-ilmu?page=all

Thursday, May 20, 2021

Kata Yahudi dalam Alquran

Maksud Kata Yahudi dalam Alquran

Jumat 12 Mar 2021 14:31 WIB


Quraish Shihab menjelaskan kata Yahudi adalah nisbah kepada Yahud.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di dalam Alquran terdapat kata Yahudi. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kata tersebut, apakah menunjuk pada ras Yahudi ataukah yang dimaksud adalah sifat-sifat buruk yang harus dihindari manusia?

Dalam buku berjudul M Quraish Shihab Menjawab dijelaskan kata Yahudi adalah nisbah kepada Yahud. Kata ini digunakan untuk menunjuk kepada sekelompok orang dari keturunan Nabi Ishaq, putra Ibrahim. Mereka dikenal juga dengan-orang Ibrani.

Menurut M Quraish, Alquran menggunakannya untuk maksud itu, walaupun tidak selalu atau semua dari mereka pasti dijuluki dengan nama itu. Istilah lain yang sering juga digunakan Alquran adalah al-Ladzina Hadu, Bani Israel, dan Ahl al-Kitab.

M. Quraish menjelaskan, diperoleh kesan umum jika Alquran menggunakan kata Yahud, maka isinya adalah kecaman atau gambaran negatif tentang mereka. Ini berbeda halnya jika Alquran menggunakan kata al-Ladzina Hadu, yang tidak selalu mengandung kecaman atas mereka.

Dan jika ada kecaman atas mereka, maka ditegaskan hal itu ditujukan kepada “sebagian dari mereka”.  (lihat QS al-Maidah [5]: 41). Perhatikan, misalnya, beberapa firman-Nya tentang kebencian orang-orang Yahudi kepada kaum Muslim (QS. Al-Ma’idah [5]: 82), ketidakrelaan mereka kecuali kalau umat Islam mengikuti atau cara hidup mereka (QS. Al-Baqarah [2]: 120), dan pertanyaan orang-orang Yahudi bahwa tangan Allah terbelenggu atau kikir (QS. Al-Ma’idah [5]: 64).

Bandingan kata Yahud dengan al-Ladzina Hadu, yang menjelaskan bahwa siapa pun di antara mereka beriman dengan benar dan beramal saleh, maka mereka tidak akan mengalami rasa takut dan tidak pula akan bersedih hati (baca selengkapnya QS. Ma’idah [5]: 69).

Keturunan Nabi Ishaq (bersama orang-orang Nasrani) juga seringkali disebut Alquran dengan istilah ahl al-Kitab. Dalam hal ini, terasa ada semacam uluran tangan dan sikap bersahabat, meskipun di sana-sini Alquran mengakui adanya perbedaan dalam keyakinan (QS Ali Imran [3]: 64) dan (QS Al-Ankabut [29]: 46).

Memang, menurut M. Quraish, ada juga kecaman yang ditujukan kepada ahl al-Kitab, tetapi kecaman ini dalam banyak ayat tidak ditujukan kepada seluruh mereka. Perhatikan, antara lain, beberapa firman-Nya dalam Alqur’an (QS. Al-Baqarah [2]: 109) dan QS. Ali Imran [3]: 69).


Sumber :

https://www.republika.co.id/berita/qpui8h366/maksud-kata-yahudi-dalam-alquran

Wednesday, April 28, 2021

Pertandingan Dihentikan untuk Berbuka Puasa

Pertandingan Dihentikan untuk Berbuka Puasa, Wesley Fofana: Terima Kasih Premier League!

Rabu 28 April 2021 08:56 WIB

LEICESTER – Bek Leicester City, Wesley Fofana, mengucapkan terima kasih kepada Premier League. Palang pintu asal Prancis itu mengucapkan terima kasih kepada Premier League karena sudah mengizinkannya berbuka puasa Ramadhan di tengah laga Leicester City vs Crystal Palace dalam lanjutan pekan ke-33 Liga Inggris 2020-2021.

Laga Leicester City vs Crystal Palace dilangsungkan pada Senin 26 April 2021 pukul 20.00 waktu setempat. Sementara itu, adzan Maghrib berkumandang di wilayah tersebut pada pukul 20.26 waktu setempat.

Ketika pertandingan memasuki menit 34 atau pukul 20.34, wasit Graham Scott mengeluarkan kebijaksanaan. Ia mempersilakan Wesley Fofana untuk ke pinggir ke lapangan guna berbuka puasa. Kesempatan itu pun tidak disia-siakan bek berusia 20 tahun tersebut.

Wesley Fofana langsung ke pinggir lapangan untuk menenggak air putih. Tak lama setelah itu, Wesley Fofana pun mengacungkan jempol, tanda terima kasih kepada sang pengadil pertandingan.

“Hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Premier League (operator kompetisi Liga Inggris) yang telah mengizinkan saya berpuasa di tengah pertandingan. Ini yang membuat sepakbola terlihat luar biasa,” kata Fofana di akun Twitter-nya, @wesley_fofanaa.

Pelatih Leicester City, Brendan Rodgers, pun layak mendapatkan apresiasi. Sebab, pria asal Irlandia Utara ini tidak pernah melarang pemainnya yang beragama Islam untuk menjalankan puasa Ramadhan di tengah ketatnya kompetisi.

Padahal, banyak pelatih di luar sana yang melarang pemainnya untuk berpuasa. Para pelatih itu takut akibat berpuasa dapat menurunkan kualitas sang pemain.

“Ia (Fofana) menemukan kekuatan yang luar biasa untuk bermain dan berlatih selama Ramadhan. Fofana merupakan talenta spesial dan pemain besar bagi kami,” kata Brendan Rodgers.

Hebatnya meski berpuasa, pemain yang mempunyai darah Pantai Gading ini tampil brilian. Sepanjang pertandingan, Wesley Fofana mencatatkan masing-masing dua tekel dan dan memenangi duel udara.

Berkat bantuan Wesley Fofana, Leicester City menang 2-1 atas Crystal Palace, lewat gol-gol Castagne dan Kelechi Iheanacho. Leicester City pun kukuh di posisi tiga klasemen Liga Inggris 2020-2021 dengan 62 angka, unggul empat poin dari Chelsea di urutan keempat.


Sumber :

https://bola.okezone.com/read/2021/04/28/45/2401972/pertandingan-dihentikan-untuk-berbuka-puasa-wesley-fofana-terima-kasih-premier-league?page=2

Sunday, April 26, 2020

5 Bukti Islam Agama Damai Beserta Dalilnya

Di dunia saat ini islam di dunia global bukan hanya dianggap sebagai agama yang membawakan keadilan dan kedamaian. Islam juga dianggap sebagai agama yang membawa radikalisme dan juga terorisme atau konflik dan perpecahan. Apalagi muncul juga berbagai pemahaman islamophobia yang menganggap islam adalah ajaran yang menakutkan.

Dalam fitrahnya, islam adalah agama yang membawakan pada keadilan, kedamaian, dan rahmat bagi semesta alam. Akan tetapi citra islam tersebut, terkadang dirusak oleh orang-orang yang membenci dan tidak suka islam berkembang.

Untuk menjawab hal tersebut, tentu saja islam harus menunjukkan bukti bahwa islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, bukan membawa pada kerusakan dan perpecahan. Dalam hal ini, Al-Quran menjawab hal tersebut dalam ayat-ayat yang ada di dalamnya.


Ajaran Kedamaian Islam dalam Al-Quran

Ajaran kedamaian islam terdapat dalam Al-Quran. Dalam sejarah, Rasulullah tidak selalu melaksanakan perang jika bukan hal tersebut adalah satu-satunya jalan dan media untuk menyebarkan ajaran islam. Kedamaian dan juga keadilan adalah hal yang juga Rasulullah jalankan agar manusia semakin baik di dunia.

Berikut adalah ayat-ayat dalam Al-Quran sebagai bukti bahwa ajarna islam adalah ajaran yang membawakan kedamaian.


Condong Pada Kedamaian
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS Al Anfal : 61)

D dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa islam adalah ajaran yang condong pada kedamaian bukan justru memecah belah dan membuat konflik berkepanjangan. Untuk itu, seruan mengarah kepada kedamaian ini sebagai bagian manusia tunduk kepada aturan Allah dan bentuk ketaqwaan pada ajaran islam. Ajaran kedamaian ini tentu saja bisa juga dibuktikan dari bagaimana Nabi Muhammad setelah perang tidak lantas menghabiskan seluruh orang-orang kafir dan penduduk yang tidak bersalah.


Justru Rasulullah membangun dan memberikan kesejahteraan untuk membangun keadilan bagi masyarakat di sana, agar mencapai kesuksesan di Dunia Menurut Islam, Sukses Menurut Islam, Sukses Dunia Akhirat Menurut Islam dengan Cara Sukses Menurut Islam


Larangan Membunuh
“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya” (QS. Al Maidah: 32).

Di dalam islam, membunuh bukanlah perbuatan yang diperintahkan. Membunuh dalam islam tidak pernah dipandang baik kecuali dalam konteks menegakkan aturan karena kejahatan atau memang dalam konteks peperangan. Akan tetapi aturan membunuh tersebut juga tidak sembarangan dan sangat berhati-hati.

Islam tidak pernah mengajarkan untuk saling membunuh apalagi jika hanya karena aspek emosional belaka. Membunuh bagaimanapun juga adalah mengambil hak hidup bagi manusia. Sedangkan hidup ini lah yang perlu dipertanggungjawabkan seseorang kepada Allah.

Kedamaian islam tentu menjadi suatu yang prioritas ketimbang melakukan perang atau saling membunuh, sebagaimana yang disampaikan dalam ayat tersebut.


Orang Kafir yang Membenci Islam
“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai.” (QS. At Taubah: 32).

Di dalam ayat tersebut dapat kita lihat bahwa orang-orang kafir lah yang justru mencibir dan memaki islam. Artinya aspek kedamaian ini tidak dilakukan oleh musuh-musuh islam. Terbukti dalam ayat tersebut bukanlah islam yang melakukan olok-olokan atau ucapan-ucapan yang memancing konflik, melainkan orang-orang kafir yang melakukannya.

Kita juga bisa melihat bahwa di zaman dahulu ajakan perang bukan saja berasal dari ajaran islam. Orang-orang di luar islam bahkan bangsa-bangsa maju di zaman dahulu pun juga sudah menjadikan perang secara fisik sebagai media untuk berkuasa dan menyebarkan islam.

Di zaman ini tentu saja bentuk perang masih ada, namun tidak selalu menggunakan cara-cara fisik. Teknologi dan informasi adalah hal yang menjadi media perang yang juga bisa memecah belah kedamaian saat ini.


Menyerahkan Kepercayaan Pada Masing-Masing Manusia
“Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS Al Kafiruun)

Islam tidak pernah mengajarkan untuk memaksakan suatu keyakinan. Namun bukan berarti islam juga membenarkan seluruh agama. Dalam hal ini islam menyerahkan seluruh keyakinan dan pilihan pada manusia itu sendiri dan masing-masing akan mempertanggungjawabkannya kepada Allah SWT secara sendiri-sendiri.

Untuk itu, dalam menjaga perdamaian islam tidak membolehkan mencampur adukkan rukun iman, rukun islam, Iman dalam Islam, Hubungan Akhlak Dengan Iman Islam dan Ihsan, dan Hubungan Akhlak dengan Iman dengan aqidah agama lain atau bahkan menghina di antaranya. Maka yang ada adalah menghargai pilihan masing-masing tanpa harus mengikuti ajaran tersebut.


Menyampaikan Dakwah Bil Hikmah
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “ (QS An Nahl : 125)

Ayat di atas juga menunjukkan bahwa islam adalah agama yang mengajarkan dakwah dengan bil hikmah. Islam mengajarkan agar dalam menyebarkan dan memberikan kesadaran pada manusia hendaknya menggunakan hikmah dan pelajaran yang baik. Tentu saja hal ini juga harus menggunakan bahasa yang baik juga dan menggugah kesadaran manusia.

Jikalaupun ada perdebatan atau sesuatu yang menjatuhkan islam, maka hendaklah pula dibantah dengan cara yang baik. Bantah-bantahan tentu saja harus dilakukan untuk menunjukkan kebenaran agar islam tidak selalu tertindas. Namun dengan catatan agar dengan cara yang baik agar kedamaian di masyarakat tetap terjaga.


Sumber :
https://dalamislam.com/dasar-islam/bukti-islam-agama-damai

Saturday, April 25, 2020

Ayat Alquran tentang Perdamaian

Selain Ali Imran yang Dikutip Putin, Ini Ayat Alquran tentang Perdamaian

Rabu, 18 Sep 2019 11:43 WIB

Selain Ali Imran 103, berikut ini 5 ayat Alquran tentang perdamaian:


1. Surah Al Hujurat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."


2. Surah Al Hujurat ayat 9

وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا ۖ فَإِنْ بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَىٰ فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّىٰ تَفِيءَ إِلَىٰ أَمْرِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ فَاءَتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

"Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil."


3. Surah An-Nisaa ayat 114

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

"Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar."


4. Surah An-Nisaa ayat 90

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَنْ يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا

"Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka."


5. Surah Al Anfal ayat 61

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

"Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."


Sumber :
https://news.detik.com/berita/d-4710982/selain-ali-imran-yang-dikutip-putin-ini-ayat-alquran-tentang-perdamaian

Friday, April 24, 2020

Putin mengutip Ayat Alquran tentang Perdamaian

Selain Ali Imran yang Dikutip Putin, Ini Ayat Alquran tentang Perdamaian

Rabu, 18 Sep 2019 11:43 WIB

Mengutip ayat 103 Surah Ali Imran, Presiden Rusia Vladimir Putin meminta dua pihak yang terlibat perang saudara di Yaman berdamai. Politikus yang lama berkarier di intelijen Uni Sovyet itu juga mengutip referensi lain dari ayat Alquran tentang Islam cinta damai, yaitu bagaimana tindakan kekerasan hanya diperbolehkan untuk membela diri.

Surah Ali Imran ayat 103 berbunyi;

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُون

Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS. Ali 'Imran [3]: 103)


Sumber :
https://news.detik.com/berita/d-4710982/selain-ali-imran-yang-dikutip-putin-ini-ayat-alquran-tentang-perdamaian

Semua Nabi adalah Jalan Kebenaran sebagai Jalan yang Lurus

Semua Nabi adalah Jalan Kebenaran Menuju Tuhan. Semua nabi adalah pembawa petunjuk yang diutus oleh Allah untuk mengarahkan umat manusia kep...

Related Post