Friday, May 31, 2024

Menyikapi Kebencian dengan Tetap Tenang

Cara Menyikapi Orang yang Membenci Kita: Sebuah Panduan dari Al-Quran.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan dengan orang-orang yang tidak menyukai kita. Menyikapi kebencian ini dengan cara yang bijak adalah penting agar kita tetap tenang dan tidak terpengaruh secara negatif. Berikut ini adalah beberapa langkah yang dapat kita ambil, yang diinspirasi dari ajaran Islam dan Al-Quran.

1. Tetap Tenang dan Tidak Membalas.

Salah satu cara terbaik untuk menyikapi orang yang membenci kita adalah dengan tetap tenang dan tidak membalas kebencian tersebut. Al-Quran mengajarkan kita untuk menahan diri dan bersabar dalam menghadapi situasi sulit. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Furqan ayat 63:

"Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati tanpa dibuat-buat, dan berjalan secara wajar, serta tidak menyombongkan diri dalam sikap dan tindakan."


2. Berdoa untuk Kebaikan Mereka.

Sikap yang mulia adalah mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang membenci kita. Rasulullah SAW memberikan contoh dengan selalu berdoa untuk orang-orang yang menyakitinya. Dengan berdoa, kita menunjukkan bahwa kita tidak menyimpan dendam dan berharap yang terbaik untuk mereka.


3. Mengintrospeksi Diri.

Mengambil waktu untuk introspeksi diri dapat membantu kita memahami apakah ada tindakan atau sikap kita yang mungkin menyebabkan kebencian tersebut. Jika ada, kita bisa memperbaiki diri dan berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


4. Memaafkan dan Melupakan.

Memaafkan orang yang membenci kita adalah langkah penting untuk kedamaian batin. Al-Quran mendorong kita untuk memaafkan kesalahan orang lain. Dalam Surat An-Nur ayat 22, Allah berfirman:

"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada."


5. Fokus pada Hal Positif.

Alihkan perhatian kita dari kebencian dengan fokus pada hal-hal positif dalam hidup kita. Teruslah melakukan kebaikan dan menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.


6. Menghindari Konfrontasi.

Jika memungkinkan, hindarilah konfrontasi dengan orang yang membenci kita. Memilih untuk menjauh dari situasi yang bisa memicu konflik adalah langkah bijak untuk menjaga ketenangan dan keharmonisan.


Ada satu doa yang bisa kita amalkan setiap saat. Abu Bakar RA pernah meminta diajari doa Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku sebuah doa yang bisa kupanjatkan dalam sholatku."

Rasulullah SAW menjawab, "Ucapkanlah, Allahumma inni zhalamtu nafsi zhulman katsira wa laa yaghfirudz dzunuba illa anta faghfirli min 'indika maghfiratan innaka antal ghafurur rahim (Ya Allah, sesungguhnya aku telah banyak menzhalimi diri sendiri dan tidak ada yang mampu mengampuni dosa melainkan Engkau, maka berilah ampunan kepadaku dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau maha pengampun dan maha penyayang)


Menyikapi kebencian dengan cara yang bijak dan sesuai ajaran Islam akan membantu kita tetap tenang dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, kita dapat menghadapi kebencian dengan bijaksana dan menjadikan diri kita lebih kuat secara spiritual dan emosional. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita dalam menghadapi setiap ujian hidup dengan kebijaksanaan dan kesabaran.


Sumber :

https://news.detik.com/infografis/d-5020235/doa-yang-diajarkan-rasulullah-saw-kepada-abu-bakar.

https://www.liputan6.com/quran/an-nur/22#:~:text=QS.%20An%2DNur%20Ayat%2022&text=22.%20Dan%20janganlah%20orang%2Dorang,mereka%20memaafkan%20dan%20berlapang%20dada.

https://www.detik.com/hikmah/quran-online/al-furqan/tafsir-ayat-63-2918#:~:text=Surah%20Al%2DFurqan%20Ayat%2063&text=Adapun%20hamba%2Dhamba%20Tuhan%20Yang,diri%20dalam%20sikap%20dan%20tindakan.

Thursday, May 23, 2024

Hamparan Permukaan Bumi: Keajaiban Penciptaan dalam Al-Quran

Allah SWT dalam Al-Quran menggambarkan bumi sebagai hamparan yang dipersiapkan dengan sangat sempurna untuk kehidupan makhluk-Nya. Ayat yang mengandung pesan mendalam ini terdapat dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 48:

"Dan bumi Kami hamparkan maka Kamilah sebaik-baik yang menghamparkan." (QS. Adz-Dzariyat: 48)

Ayat ini mengajak kita untuk merenungkan kebesaran Allah dalam menciptakan bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman bagi manusia dan makhluk lainnya. Namun, bagaimana penjelasan ilmiah mengenai "hamparan" ini? Mari kita telaah lebih lanjut.


Lapisan Permukaan Bumi: Karpet yang Bergerak.

Lapisan tanah di permukaan bumi, atau yang dikenal dengan lithosphere, memiliki sifat lentur dan dinamis. Geologi modern telah membuktikan bahwa kita hidup di atas lempengan benua yang terus bergerak. Lempengan-lempengan ini bagaikan hamparan karpet yang mengapung di atas lapisan cair panas yang disebut mantle, dengan suhu mencapai sekitar 3700°C dan tekanan sebesar 1,37 juta atmosfer.


Bumi ini dihamparkan sebagai tempat tinggal makhluk hidup. Hamparan ini, berupa lempengan yang telah membeku dari keadaan cair yang sangat panas, menciptakan kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan. Tanpa proses pendinginan dan pembekuan ini, bumi akan tetap berupa massa cair yang tidak dapat mendukung kehidupan.


Pergerakan Lempengan: Sumber Kehidupan dan Bencana.

Lempengan-lempengan benua ini tidaklah diam. Mereka terus bergerak, saling bertemu, saling menjauh, atau bergerak berdampingan tanpa bertemu. Tempat-tempat pertemuan atau batas lempengan ini adalah pusat aktivitas geologis yang intens, seperti gempa bumi dan aktivitas vulkanis. Meskipun fenomena ini bisa berbahaya, mereka juga memiliki peran penting dalam memperkaya permukaan bumi dengan berbagai unsur dan mineral yang berasal dari dalam bumi.

Penelitian menunjukkan bahwa pusat guncangan gempa dan aktivitas vulkanik seringkali terletak di sekitar batas lempengan-lempengan ini. Aktivitas vulkanik, misalnya, tidak hanya menghasilkan lava yang dapat menjadi bencana, tetapi juga membawa mineral berharga ke permukaan bumi, yang menjadi sumber tambang yang bermanfaat bagi manusia.


Keajaiban Penciptaan: Refleksi dari Kebesaran Allah.

Keajaiban struktur bumi ini adalah bukti nyata kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Allah yang menghamparkan bumi ini dengan segala kebijaksanaan-Nya, menciptakan sebuah tempat yang ideal untuk kehidupan. Fenomena geologis yang terjadi tidak hanya menunjukkan kebesaran-Nya tetapi juga memberikan manfaat besar bagi kehidupan di bumi.


Merenungkan Kebesaran Allah.

Sebagai manusia, kita diajak untuk merenungkan tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di sekitar kita. Struktur bumi yang sempurna ini mengingatkan kita akan kebesaran dan kekuasaan Sang Pencipta. Dalam memahami dan mengapresiasi keajaiban ini, kita dapat memperkuat iman kita dan meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.


Penutup.

Dengan mempelajari geologi dan fenomena alam yang disebutkan dalam Al-Quran, kita semakin menyadari betapa besar kebijaksanaan Allah SWT dalam menciptakan bumi dan segala isinya. Ayat-ayat Al-Quran tidak hanya memberikan petunjuk spiritual tetapi juga mengandung kebenaran ilmiah yang semakin terungkap seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Semoga dengan memahami tanda-tanda kebesaran Allah ini, kita dapat hidup dengan penuh kesadaran akan kebesaran-Nya, meningkatkan rasa syukur kita, dan menjalani kehidupan sesuai dengan kehendak-Nya. Amin.

Thursday, May 16, 2024

Perahu-Perahu yang Berlayar sebagai Tanda Kebesaran Allah



Sains Al-Quran: Perahu-Perahu yang Berlayar sebagai Tanda Kebesaran Allah.

Al-Quran merupakan sumber kearifan dan pengetahuan yang tak terbatas, yang mengandung tanda-tanda kebesaran Allah SWT di setiap ayatnya. Salah satu aspek menakjubkan yang diungkapkan dalam Al-Quran adalah tentang perahu-perahu yang berlayar di lautan, yang Allah SWT sebutkan dalam dua ayat berikut:

"Milik-Nya perahu-perahu yang berlayar di lautan bagaikan gunung-gunung yang tinggi." (Ar-Rahman: 24).

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah perahu-perahu yang berlayar di lautan seperti gunung-gunung yang tinggi." (Asy-Syura: 32).

Dua ayat ini menggambarkan perumpamaan perahu-perahu layar dengan gunung-gunung yang tinggi. Mari kita renungkan betapa luar biasanya pernyataan ini mengingat konteks zaman di mana ayat-ayat ini diturunkan.

Keajaiban Perahu-Perahu dalam Konteks Sejarah.

Rasulullah SAW hidup di daerah gurun yang jauh dari pantai. Pada masa Nabi Muhammad SAW, perahu-perahu layar yang ada ukurannya relatif kecil dan sederhana. Menyerupakan perahu-perahu pada masa itu dengan gunung-gunung yang tinggi tentunya tidaklah logis dan tidak sesuai dengan realitas yang ada saat itu. Namun, ayat-ayat Al-Quran ini justru memberikan gambaran yang jauh melampaui pengetahuan dan teknologi pada zamannya.

Perkembangan Kapal Raksasa pada Abad ke-20.

Baru pada permulaan abad ke-20, manusia mulai membuat kapal-kapal raksasa yang dapat kita saksikan di lautan pada masa sekarang. Kapal-kapal ini mampu mengangkut muatan yang sangat banyak dari satu negeri ke negeri yang lain. Kapal-kapal tanker raksasa, misalnya, mampu mengangkut minyak bumi dalam volume yang sangat besar, serta berbagai komoditas lainnya melalui lautan. Perkembangan teknologi ini membuat gambaran perahu-perahu yang berlayar bagaikan gunung-gunung menjadi kenyataan yang sangat nyata di zaman modern.

Ilmu Pengetahuan dalam Al-Quran.

Lalu, siapakah yang mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang pengetahuan ini lebih dari 1.400 tahun yang lalu? Jawabannya adalah Allah SWT, pencipta langit dan bumi, penguasa Arsy yang agung, yang menurunkan Al-Quran yang mulia kepada Rasulullah SAW. Allah SWT memberikan pengetahuan ini sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya, serta sebagai bukti bahwa Al-Quran adalah wahyu yang berasal dari-Nya.

Kebesaran Allah dalam Perumpamaan.

Perumpamaan perahu-perahu yang berlayar di lautan seperti gunung-gunung tinggi mengandung banyak hikmah. Salah satunya adalah menunjukkan betapa agung dan hebatnya ciptaan Allah SWT. Kapal-kapal raksasa ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai simbol kemajuan peradaban manusia yang Allah SWT izinkan untuk berkembang. Ini adalah salah satu cara Allah SWT menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya kepada kita agar kita merenung dan memperkuat iman kita.

Renungan dan Kesimpulan.

Dengan demikian, mari kita merenungkan kebesaran Allah SWT yang tercermin dalam ayat-ayat Al-Quran dan dalam fenomena alam yang kita saksikan sehari-hari. Kapal-kapal raksasa yang berlayar di lautan adalah bukti nyata dari kebijaksanaan dan kekuasaan Allah SWT yang tak terbatas. Semoga dengan memahami dan menghargai tanda-tanda kebesaran-Nya, kita dapat memperkuat iman kita, menghormati kebesaran-Nya, dan menjalani hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Semoga artikel ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih mendalami dan menghayati pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Quran, serta meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya. Amin.

Thursday, April 25, 2024

Mengungkap Tujuan Mulia Penciptaan Manusia

Mengungkap Tujuan Mulia Penciptaan Manusia: Perspektif Al-Quran.

Tujuan penciptaan manusia pastinya bukan sebuah kesia-siaan. Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dibanding makhluk lain, sudah semestinya manusia mengetahui tujuan penciptaan manusia. Memahami tujuan penciptaan manusia, akan membuat manusia lebih bersyukur dan menghargai sesama makhluk hidup.

Dalam pencarian makna hidup dan eksistensi kita di dunia ini, seringkali kita merenungkan tujuan dibalik penciptaan kita sebagai manusia. Dalam agama Islam, Al-Quran menjadi sumber utama untuk menjawab pertanyaan ini. Salah satu ayat yang membahas tujuan penciptaan manusia adalah Surah Adz-Dzariyat ayat 56.

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku." (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Dari ayat ini, kita dapat merangkum beberapa poin penting,


1. Tujuan Murni.

Ayat ini mengungkapkan tujuan murni di balik penciptaan manusia. Allah SWT menciptakan manusia bukan tanpa alasan, melainkan dengan tujuan yang jelas: untuk beribadah kepada-Nya. Ini menekankan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk mengenal, mencintai, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

2. Arti Sejati Kehidupan.

Dengan mengetahui bahwa tujuan utama kita adalah untuk beribadah kepada Allah, kita bisa memahami bahwa arti sejati dari kehidupan ini adalah menjalankan perintah-Nya, mengabdi kepada-Nya, dan menyempurnakan diri kita dalam perjalanan rohani.

3. Keterkaitan Jin dan Manusia.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa jin dan manusia memiliki tujuan yang sama dalam kehidupan: untuk beribadah kepada Allah. Meskipun jin dan manusia memiliki kehidupan dan sifat yang berbeda, mereka sama-sama diminta untuk mengabdikan diri mereka kepada Sang Pencipta.

4. Pemahaman Terhadap Kehendak Allah.

Ayat ini mengajarkan kita bahwa mencari dan memenuhi kehendak Allah harus menjadi fokus utama dalam kehidupan kita. Dengan memahami dan mematuhi tujuan penciptaan kita, kita dapat mencapai kedamaian dan kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat.

Manusia adalah makhluk pilihan yang dimuliakan oleh Allah dari makhluk ciptaan-Nya yang lainnya. Islam menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berasal dari tanah, kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan memiliki berbagai kemampuan.

Dengan demikian, ayat ini mengajak kita untuk merenungkan tujuan murni di balik penciptaan manusia, yaitu untuk beribadah kepada Allah. Ini mengingatkan kita bahwa kehidupan ini adalah kesempatan berharga untuk memperkuat hubungan kita dengan Sang Pencipta dan menjalankan tugas suci kita sebagai hamba-Nya. Dengan memahami dan menghayati tujuan penciptaan ini, kita dapat mengarahkan hidup kita menuju kesempurnaan dan kebahagiaan yang hakiki, baik di dunia maupun di akhirat.

Sunday, June 18, 2023

Tujuan Penciptaan Manusia

4 Tujuan Penciptaan Manusia Menurut Islam, Ketahui Keistimewaannya

Tujuan penciptaan manusia bisa dijelaskan dalam Islam. Manusia diciptakan Allah SWT dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Ini sesuai dengan QS. At Tin [95]: 4 yang berbunyi:

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya"

Tujuan penciptaan manusia pastinya bukan sebuah kesia-siaan. Sebagai makhluk yang diciptakan paling sempurna dibanding makhluk lain, sudah semestinya manusia mengetahui tujuan penciptaan manusia. Memahami tujuan penciptaan manusia, akan membuat manusia lebih bersyukur dan menghargai sesama makhluk hidup.

Dalam Islam, tujuan penciptaan manusia bisa dilihat dalam ayat-ayat Al Qur'an. Tujuan penciptaan manusia merupakan tujuan yang mulia. Berikut tujuan penciptaan manusia menurut Islam, dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis(29/4/2021).

Tujuan penciptaan manusia yang paling utama adalah untuk beribadah dan bertakwa pada Allah. Manusia pada umumnya diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Hal ini sesuai dengan ayat QS.Adz Dzariyat: 56 yang berbunyi:

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Al-Dzariyat: 56)

Telah dijelaskan dalam QS.Adz Dzariyat: 56, Allah berfirman Dia menciptakan manusia dan jin semata-mata agar mereka beribadah kepada-Nya. Allah menciptakan manusia bukan hanya untuk sekedar tidur, bekerja, makan maupun minum melainkan untuk melengkapi bumi ini dan beribadah kepada-Nya.

Menurut tafsir Ibnu Qoyyim Al Jauziyah:

" bahwa tujuan Allah menciptakan kita manusia serta jin dan makhluk lainnya di bumi ini adalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah tidak mungkin menciptakan makhluk begitu saja tanpa pelarangan atau perintah" .

Tujuan ini mendidik manusia untuk senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

Tujuan penciptaan manusia selanjutnya adalah sebagai pengurus bumi dan seisinya. Khalifah adalah hamba Allah yang ditugaskan untuk menjaga ke- maslahatan dan kesejahteraan dunia. Hal ini tertuang dalam ayat Al Qur'an yang berbunyi:

” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguh- nya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan men- sucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."

Ayat 30 dari surat al-Baqarah adalah informasi bagi para malaikat bahwa Allah menciptakan khalifah (Adam dan keturunannya) di muka bumi. Manusia diberi derajat tinggi untuk mengatur, mengelola dan mengolah semua potensi yang ada dimuka bumi.

Tujuan penciptaan manusia sebagai khalifah juga tertuang dalam QS. al-An’am ayat 165 yang berbunyi:

” Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Tujuan penciptaan manusia yang ketiga adalah mengemban amanah. Tujuan ini berupa kesanggupan manusia memikul beban taklif yang diberikan oleh Allah SWT. Tujuan penciptaan manusia ini mendidik orang-orang beriman supaya selalu memelihara amanah dan mematuhi perintah tersebut.

Hal ini sesuai dengan QS al-Ahzab ayat 72 yang berbunyi:

” Sesungguhnya kami Telah menge- mukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikulah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”

Amanah yang sudah ditetapkan tersebut agar ti- dak dikhianati, baik amanah dari Allah SWT dan RasulNya maupun amanah antara sesama manusia.

Tujuan penciptaan manusia adalah agar manusia senantiasa mengetahui maha kuasanya Allah SWT. Ini meliputi pemahaman bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya dan sesisnya terbentuk atas kuasa Allah SWT. Hal tersebut telah dijelaskan dalam QS at-Thalaq: 12 yang berbunyi:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha-Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu."

Manusia adalah makhluk pilihan yang dimuliakan oleh Allah dari makhluk ciptaan-Nya yang lainnya. Islam menjelaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia berasal dari tanah, kemudian menjadi nutfah, alaqah, dan mudgah sehingga akhirnya menjadi makhluk Allah SWT yang paling sempurna dan memiliki berbagai kemampuan.

Tercatat empat macam keistimewaan yang diberikan Oleh Allah kepada manusia ialah, akal, agama, rasa malu, dan amal shalih. Manusia sebagai pemimpin bumi mendapat kedudukan yang mulia disisi Allah SWT. Sebagai khalifah, manusia dianugerahi keistimewaan dan kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya.

Dalam hadis Rasulullah berpesan

" Ada empat perkara sebagai mutiara manusia, yang dapat hilang dengan empat perkara lain, ialah : Akal dihilangkan oleh marah, Agama dihilangkan oleh hasud, Malu dihilangkan oleh tamak, dan amal shalih dihilangkan oleh menggunjing " .


Sumber :

https://www.liputan6.com/hot/read/4545569/4-tujuan-penciptaan-manusia-menurut-islam-ketahui-keistimewaannya

Tujuan Penciptaan Alam Semesta

Alquran: Alam Semesta Diciptakan untuk Tujuan yang Benar

Alquran menjelaskan bahwa penciptaan alam semesta.

Alquran menjelaskan, penciptaan alam semesta, yakni langit dan bumi bukan untuk hal yang sia-sia atau main-main. Penciptaan alam semesta untuk tujuan yang benar, salah satunya agar manusia menyembah dan mengenal Allah melalui ciptaan-Nya. Hal ini dijelaskan dalam Surah Al-Anbiya Ayat 16 dan tafsirnya.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَ

Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main. (QS Al-Anbiya: 16)

Dalam Tafsir Kementerian Agama, ayat ini menjelaskan bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi serta semua yang terdapat di antara keduanya dengan maksud yang sia-sia atau main-main. Allah menciptakan itu semua dengan tujuan yang benar, yang sesuai dengan hikmah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna.

Pernyataan ini merupakan jawaban terhadap sikap dan perbuatan kaum kafir yang mengingkari kenabian Nabi Muhammad SAW, serta kemukjizatan Alquran. Karena tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepadanya yaitu, bahwa Alquran adalah buatan Nabi Muhammad SAW, bukan wahyu dan mukjizat yang diturunkan Allah kepadanya.

Sikap ini menunjukkan bahwa mereka tidak mengakui ciptaan Allah, seakan-akan Allah menciptakan sesuatu hanya untuk main-main, tidak mempunyai tujuan yang benar dan luhur. Padahal Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya, dan yang ada di antara keduanya, adalah agar manusia menyembah-Nya dan berusaha untuk mengenal-Nya melalui ciptaan-Nya itu.

Maksud tersebut baru dapat tercapai dengan sempurna apabila penciptaan alam itu diikuti dengan penurunan Kitab yang berisi petunjuk dan dengan mengutus para Rasul untuk membimbing manusia. Alquran selain menjadi petunjuk bagi manusia, juga berfungsi sebagai mukjizat terbesar bagi Nabi Muhammad SAW, untuk membuktikan kebenaran kerasulannya.

Oleh sebab itu, orang-orang yang mengingkari kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah juga orang-orang yang menganggap bahwa Allah menciptakan alam ini dengan sia-sia, tanpa adanya tujuan dan hikmat yang luhur, tanpa ada manfaat dan kegunaannya.

Apabila manusia mau memperhatikan semua yang ada di bumi ini, baik yang tampak di permukaannya, maupun yang tersimpan dalam perut bumi itu, niscaya ia akan menemukan banyak keajaiban yang menunjukkan kekuasaan Allah.

Jika ia yakin bahwa kesemuanya itu diciptakan Allah untuk kemaslahatan dan kemajuan hidup manusia sendiri, maka ia akan merasa bersyukur kepada Allah, dan meyakini bahwa semuanya itu diciptakan Allah berdasarkan tujuan yang luhur karena semuanya memberikan faedah yang tidak terhitung banyaknya.

Bila manusia sampai kepada keyakinan semacam itu, sudah pasti ia tidak akan mengingkari Alquran dan tidak akan menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW. Senada dengan isi ayat ini, Allah telah berfirman dalam ayat-ayat yang lain. 

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia. Itu anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu karena mereka akan masuk neraka." (QS Sad: 27)

"Tidaklah Kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq (benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui." (QS Ad-Dukhan: 39)


Sumber :

https://iqra.republika.co.id/berita/rfba7h313/alquran-alam-semesta-diciptakan-untuk-tujuan-yang-benar#:~:text=Penciptaan%20alam%20semesta%20untuk%20tujuan,Anbiya%20Ayat%2016%20dan%20tafsirnya.

Wednesday, April 5, 2023

Konsep Rumah Sakit Datang dari Islam

Banyak yang Tak Tahu, Konsep Rumah Sakit Datang dari Islam


Abad ke-6 sampai ke-11 adalah masa kejayaaan Islam. Ketika Eropa sedang mengalami masa kegelapan (Dark ages), yang ditandai dengan menguatnya peran gereja dan menghilangnya perkembangan pengetahuan, Islam tampil sebagai 'sang pencerah' dari Timur. 

Dalam kurun waktu tersebut terjadi proses Islamisasi yang membuat Islam menyentuh berbagai wilayah lain di Jazirah Arab. Dampak dari proses Islamisasi ini adalah munculnya orang-orang yang kemudian menjadi cendekiawan Muslim.

Mereka muncul sebagai hasil dari kegiatan penerjemahan dan penyerapan karya filosofis dan ilmiah Barat.  Jadi, karya-karya yang terlupakan itu adalah 'santapan' orang-orang Muslim. 

Puncak proses penerjemahan itu terjadi saat mereka mendirikan Bait-ul Hikmah atau Rumah Kebijaksanaan di Baghdad pada 830 M. Rumah itu berisi perpustakaan besar yang mengoleksi ribuan buku, dari mulai sains hingga filsafat. 

Karena berisi pusat ilmu pengetahuan, maka perpustakaan itu menjadi arena diskusi para cendekiawan. Dari sinilah mereka kemudian membuat banyak kemajuan ilmiah dan teknologi penting dalam matematika, astronomi, kimia, dan berbagai ilmu lain. 


Islam dan Konsep Rumah Sakit

Ahmed T. Kuru dalam Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan (2021) menyebut kunci sukses pengembangan pengetahuan oleh umat Muslim disebabkan karena mereka tidak dekat dengan penguasa. Mereka berdiri independen dan hanya didukung oleh kaum borjuasi Islam atau pedagang. Sebab, penguasa dipandang otoriter dan korup, sehingga dapat menghambat pengembangan pengetahuan. 

Dalam riset "How Islam Changed Medicine" (2005), salah satu karya besar dari orang Muslim yang dihasilkan dalam kurun tersebut adalah konsep praktis medis. Sebelum Islam, perawatan medis dilakukan oleh pendeta di sanatorium dan paviliun tempat ibadah. Barulah setelahnya, Islam memperkenalkan konsep rumah sakit yang berisi bangsal terpisah antara pria dan wanita, rekam medis, dan apotek.

Salah satu tokoh Muslim yang berpengaruh luas adalah Ibnu Sina alias Avicenna. Dia membuat pemahaman baru tentang penyembuhan pasien, bahwa untuk menyehatkan kembali orang sakit diperlukan kolaborasi antara obat-obatan, sisi psikologis, kesehatan fisik, dan gizi. Ini mengubah pandangan kuno Eropa yang hanya menekankan kesehatan fisik. 

Contoh ini hanyalah dua dari ribuan karya Islam yang tersebar luas mencerahkan kegelapan di Eropa. Saat proses Islamisasi berlangsung, terjadi pula perubahan paradigma pengetahuan. Secara langsung, Islam turut serta mengubah proses pengetahuan Barat yang tertinggal.

Namun, arus persebaran ini terhenti ketika peradaban Islam yang dibangun oleh bangsa Arab mengalami kemunduran usai serangan kelompok lain dan konflik internal. Satu per satu kekuasaan kelompok Islam di Eropa lepas. 


Sumber :

https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20230405105140-33-427503/banyak-yang-tak-tahu-konsep-rumah-sakit-datang-dari-islam?

Semua Nabi adalah Jalan Kebenaran sebagai Jalan yang Lurus

Semua Nabi adalah Jalan Kebenaran Menuju Tuhan. Semua nabi adalah pembawa petunjuk yang diutus oleh Allah untuk mengarahkan umat manusia kep...

Related Post